Lady Gaga akan konser di Indonesia, namun ternyata rencana tersebut tidak berjalan mulus. Kontroversi terjadi, banyak pihak yang menentang tapi ada juga yang mendukung, ada juga yang anggak mau ambil pusing dengan masalah seperti ini.
Mengenai hal ini akan disampaian beberapa pendapat tentang akan dilaksankannya konser Lady Gaga.
DetikNews banyak melansir pendapat tentang Konser Lady Gaga di Indonesia.
Canberra-Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie atau Ical tak urung ikut bicara soal konser Lady Gaga. Politisi yang akrab disapa Ical ini berharap, jangan ada kekerasan dalam aksi pihak-pihak yang menolak konser Lady Gaga.
"Seperti Lady Gaga, boleh orang nggak sepakat atau tidak, tapi mengancam jangan. Kita negara hukum," kata Ical dalam kunjungan di Canberra, Australia, Senin (21/5/2012).
Hak setiap orang untuk suka atau tidak suka pada Lady Gaga. Tapi jangan ada kekerasan. "Tindakannya yang anarkistis, itu yang kita hambat," tuturnya.
Apabila ada ormas, yang nekat melakukan kekerasan. Hukumnya tindak tegas ormas tersebut. "Cara mengatasinya adalah tindak tegas," ungkapnya.
Sumber: Chazizah Gusnita - detikNews
Senin, 21/05/2012 18:15 WIB
Jakarta-Partai Demokrat (PD) meminta Polri tidak bersikap asal dengan main larang dalam konser Lady Gaga. Semua harus dipertimbangkan dengan matang. Karena apapun keputusan Polri akan berimbas pada ranah politik.
"Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto, mewakili otoritas politik Indonesia, telah menyatakan sikap resmi bahwa pemerintah tidak melarang konser Lady Gaga. Pernyataan itu menjelaskan kebijakan politik hukum pemerintah yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh Kapolri dan seluruh jajarannya," kata Sekretaris Departemen HAM DPP Partai Demokrat, Rachlan Nasidik, Senin (21/5/2012).
Menurut Rachlan, kebijakan politik hanya bisa diambil oleh otoritas yang dipilih oleh rakyat melalui pemilu, yakni Ppresiden. Karena itu, kebijakan yang berimbas pada politik, harus dipikirkan matang-matang oleh Polri.
Sumber: Gagah Wijoseno - detikNews
Senin, 21/05/2012 17:58 WIB
Jakarta Izin konser penyanyi dunia Lady Gaga masih dibahas di kepolisian. Semua pihak diminta menghormati apa pun keputusannya. Polri juga dipastikan tak akan memihak golongan tertentu.
"Perlu diingatkan, apa pun nanti yang menjadi keputusan di pihak berwenang, karena mereka yang bertangung jawab dan berwenang keamanan dan ketertiban masyarakat itu perlu diterima. Jelas bahwa posisi Polri tidak akan memihak untuk salah satu kelompok atau golongan," kata Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jalan Medan Merdeka, Jakarta, Senin (21/5/2012).
Menurut Julian, kepolisian sedang melakukan kajian dan evaluasi sesuai dengan arahan Menko Polhukam Djoko Suyanto. Kajian itu berkutat seputar kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan terjadinya keresahan sosial, ketegangan dan kontak fisik.
Sumber: Rachmadin Ismail - detikNews
Senin, 21/05/2012 17:15 WIB
Mengenai hal ini akan disampaian beberapa pendapat tentang akan dilaksankannya konser Lady Gaga.
DetikNews banyak melansir pendapat tentang Konser Lady Gaga di Indonesia.
Canberra-Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie atau Ical tak urung ikut bicara soal konser Lady Gaga. Politisi yang akrab disapa Ical ini berharap, jangan ada kekerasan dalam aksi pihak-pihak yang menolak konser Lady Gaga.
"Seperti Lady Gaga, boleh orang nggak sepakat atau tidak, tapi mengancam jangan. Kita negara hukum," kata Ical dalam kunjungan di Canberra, Australia, Senin (21/5/2012).
Hak setiap orang untuk suka atau tidak suka pada Lady Gaga. Tapi jangan ada kekerasan. "Tindakannya yang anarkistis, itu yang kita hambat," tuturnya.
Apabila ada ormas, yang nekat melakukan kekerasan. Hukumnya tindak tegas ormas tersebut. "Cara mengatasinya adalah tindak tegas," ungkapnya.
Sumber: Chazizah Gusnita - detikNews
Senin, 21/05/2012 18:15 WIB
Jakarta-Partai Demokrat (PD) meminta Polri tidak bersikap asal dengan main larang dalam konser Lady Gaga. Semua harus dipertimbangkan dengan matang. Karena apapun keputusan Polri akan berimbas pada ranah politik.
"Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto, mewakili otoritas politik Indonesia, telah menyatakan sikap resmi bahwa pemerintah tidak melarang konser Lady Gaga. Pernyataan itu menjelaskan kebijakan politik hukum pemerintah yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh Kapolri dan seluruh jajarannya," kata Sekretaris Departemen HAM DPP Partai Demokrat, Rachlan Nasidik, Senin (21/5/2012).
Menurut Rachlan, kebijakan politik hanya bisa diambil oleh otoritas yang dipilih oleh rakyat melalui pemilu, yakni Ppresiden. Karena itu, kebijakan yang berimbas pada politik, harus dipikirkan matang-matang oleh Polri.
Sumber: Gagah Wijoseno - detikNews
Senin, 21/05/2012 17:58 WIB
Jakarta Izin konser penyanyi dunia Lady Gaga masih dibahas di kepolisian. Semua pihak diminta menghormati apa pun keputusannya. Polri juga dipastikan tak akan memihak golongan tertentu.
"Perlu diingatkan, apa pun nanti yang menjadi keputusan di pihak berwenang, karena mereka yang bertangung jawab dan berwenang keamanan dan ketertiban masyarakat itu perlu diterima. Jelas bahwa posisi Polri tidak akan memihak untuk salah satu kelompok atau golongan," kata Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrin Pasha di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jalan Medan Merdeka, Jakarta, Senin (21/5/2012).
Menurut Julian, kepolisian sedang melakukan kajian dan evaluasi sesuai dengan arahan Menko Polhukam Djoko Suyanto. Kajian itu berkutat seputar kekhawatiran masyarakat terhadap kemungkinan terjadinya keresahan sosial, ketegangan dan kontak fisik.
Sumber: Rachmadin Ismail - detikNews
Senin, 21/05/2012 17:15 WIB
Sindonews.com – Ketua Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) Said Agil Siradj meminta agar seluruh pihak tidak berlebihan dalam menentang kedatangan penyanyi Lady Gaga ke Indonesia. Menurutnya, bagi NU iman mereka tak akan menggoyang akhlak dan tak akan merosot hanya karena kedatangan Lady Gaga.
Ia mencontohkan banyak hal maksiat yang semestinya juga dilarang tetapi malah cenderung dibiarkan. Salah satunya seperti yang ada di dunia maya.
“Bukan masalah menerima atau tidak. Disebelah saya ada kemaksiatan pun saya tidak akan tergoyah, saya beragama, saya berakhlak, di Amerika, di Mekah, di pasar, di masjid sama saja. Kita mau jahat enggak usah lihat Lady Gaga kok. Kalau mua jahat buka internet saja segala macam ada. Bagi NU mau ada seribu Lady Gaga enggak akan mengubah keimanan orang NU,” ujarnya kepada wartawan di Perpustakaan Universitas Indonesia (UI), Jumat malam 18 Mei 2012.
Said menilai ormas anarkis yang menentang kedatangan Lady Gaga jika dilihat dari sisi reformasi itu telah gagal. Sebab, kebebasan saat ini kebablasan yang menyebabkan orang bebas bertindak.
“Tidak seperti yang kita harapkan ya, karena kebebasan kemudian menimbulkan kebebasan bertindak, yang bernaung agama itu sendiri. Anarkislah, main hakim sendirilah, dengan menggunakan kesempatan sebaik – baiknya kebebasan yang sudah kita alami sebenarnya kebebasan itu untuk membangun nilai membangun persaudaraan, membangun kekuatan tidak dengan main hakim sendiri,” tegasnya.
Sumber: Iman Herdiana (Okezone) - Okezone
Sabtu, 19 Mei 2012 10:27 wib
KH Hasyim Muzadi: Atas Nama HAM Tolak Lady Gaga Konser
Senin, 21 Mei 2012 17:13 WIB
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-Hak
asasi manusia (HAM) dan kebebasan berekpresi menjadi alasan yang
dikemukakan para pendukung konser Lady Gaga di Indonesia. Mantan Ketua
Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengatakan,
HAM di Indonesia belun jelas 'kelaminnya'.
"Apakah dia humanisme seperti yang dianut Gandhi, yaitu my nationality is my humanity. Atau, westernisme, artinya semua yang dari barat harus diterima dan yang menolak dicap melanggar HAM," kata Hasyim Muzadi di Jakarta, Senin (21/5/2012).
Menurut Hasyim, banyak kalangan selalu bicara kebebasan atas nama HAM. Termasuk, soal konser Lady Gaga. Namun, dalam kasus tertentu mereka tak berani menyebut orang melanggar HAM.
"Kelompok ini tidak mungkin mencap Israel melanggar HAM sekalipun ngebom dimana-mana. Atau Indonesianisme, yakni HAM untuk membela kepentingan kebangsaan. Atau HAM merupakan monster yang justru akan digunakan melindas norma kebangsaan Indonesia," katanya.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Malang dan Depok ini menegaskan kembali, kenyataan di lapangan, kelompok yang paling getol menggunakan HAM adalah neolib dan neokom yang menggunting norma-norma agama.
"Inilah yang tercermin dari polemik Lady Gaga. Sebagian yang merasa tokoh agama pun bergaya western untuk memastikan keintelekannya dan humanismenya," katanya.
Lebih lanjut, ia mengatakan, masalah konser Lady Gaga di Indonesia yang kini menjadi perdebatan banyak kalangan, adalah ujian nyata pemerintah. Polisi, katanya, bisa saja berubah pikiran karena tak kuat menahan serangan pihak-pihak yang sepakat terhadap konser Lady Gaga.
"Dari sini diuji 'kelamin' pemerintah via polri. Mau ngambil kelamin yang mana. Buat saya, sebaiknya polri melarang. Toh yang teriak-teriak berselancar, akhirnya tidak tanggungjawab," ungkapnya.
Ditegaskan kembali, jika kelompok pendukung konser Lady Gaga di Indonesia mengatas namakan HAM, maka kelompok yang menolak Lady Gaga juga bisa mengatas namakan HAM.
"Kalau yang membela Lady Gaga berdasarkan HAM, bagaimana kalau yang menentang juga berdasarkan HAM untuk menentang? Karena menentang pun juga HAM kan ? Ingat, membela normapun punya HAM," tandas KH Hasyim Muzadi .
"Apakah dia humanisme seperti yang dianut Gandhi, yaitu my nationality is my humanity. Atau, westernisme, artinya semua yang dari barat harus diterima dan yang menolak dicap melanggar HAM," kata Hasyim Muzadi di Jakarta, Senin (21/5/2012).
Menurut Hasyim, banyak kalangan selalu bicara kebebasan atas nama HAM. Termasuk, soal konser Lady Gaga. Namun, dalam kasus tertentu mereka tak berani menyebut orang melanggar HAM.
"Kelompok ini tidak mungkin mencap Israel melanggar HAM sekalipun ngebom dimana-mana. Atau Indonesianisme, yakni HAM untuk membela kepentingan kebangsaan. Atau HAM merupakan monster yang justru akan digunakan melindas norma kebangsaan Indonesia," katanya.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Malang dan Depok ini menegaskan kembali, kenyataan di lapangan, kelompok yang paling getol menggunakan HAM adalah neolib dan neokom yang menggunting norma-norma agama.
"Inilah yang tercermin dari polemik Lady Gaga. Sebagian yang merasa tokoh agama pun bergaya western untuk memastikan keintelekannya dan humanismenya," katanya.
Lebih lanjut, ia mengatakan, masalah konser Lady Gaga di Indonesia yang kini menjadi perdebatan banyak kalangan, adalah ujian nyata pemerintah. Polisi, katanya, bisa saja berubah pikiran karena tak kuat menahan serangan pihak-pihak yang sepakat terhadap konser Lady Gaga.
"Dari sini diuji 'kelamin' pemerintah via polri. Mau ngambil kelamin yang mana. Buat saya, sebaiknya polri melarang. Toh yang teriak-teriak berselancar, akhirnya tidak tanggungjawab," ungkapnya.
Ditegaskan kembali, jika kelompok pendukung konser Lady Gaga di Indonesia mengatas namakan HAM, maka kelompok yang menolak Lady Gaga juga bisa mengatas namakan HAM.
"Kalau yang membela Lady Gaga berdasarkan HAM, bagaimana kalau yang menentang juga berdasarkan HAM untuk menentang? Karena menentang pun juga HAM kan ? Ingat, membela normapun punya HAM," tandas KH Hasyim Muzadi .
Banyak pendapat lain yang membahas tentang Konser Lady Gaga, tapi cukup ini dulu saja yang saya sampaikan. Terserah Anda sekalian bagaimana menyikapinya.
Terima kasih buat para Sumber.

No comments:
Post a Comment