A. PENDAHULUAN
Tasawuf,
bukanlah sesuatu yang dengannya manusia dapat melakukan sebuah
pelarian, bukanlah sesuatu yang dengannya manusia dapat berpangku tangan
terhadap hidup. Melainkan, tasawuf adalah suatu metode penyucian jiwa
dan pembening hati, yang menjadi bekal utama manusia dalam menggeluti
ranah kehidupannya yang, pada dasarnya tidak pernah terlepas dari
berbagia macam persoalan. Tasawuf membimbing manusia dalam pengembangan
kinerja ukhrawi dan sekaligus juga duniawi.
Seorang
sufi, bukanlah seseorang yang melepaskan dirinya dari dunia. Melainkan,
mereka adalah pribadi-pribadi yang mampu mengguncang dunia. Tidak
pernah melarikan diri dari masalah, namun menyongsongnya. Dengan
berbekal nurani yang tercerahkan, para sufi tampil ke depan dan
menghadapi semua bentuk tirani bumi, serta membangun pondasi-pondasi
peradaban dunia baru.
Pada
kesempatan kali ini, kami akan mencoba mengulas mengenai tasawuf dalam
perkembangannya di belahan Benua India, tokoh-tokohnya,
tarekat-tarekatnya, serta beberpa hal lainnya yang berhubungan
dengannya.
Makalah
ini terbagi dalam beberapa bagian dengan sistematika sebagai berikut:
Bagian pertama, yaitu pendahuluan. Bagian kedua, mengetengahkan tentang
sejarah perkembangan tasawuf di Benua India, serta latar belakang yang
mempengaruhinya. Bagian ketiga, menampilkan beberapa tarekat-tarekat
yang berpengaruh, serta sekiranya memberikan kontribusinya terhadap
perjalan tasawuf di India. Bagian keempat, mengulas mengenai beberapa
kecenderungan tasawuf yang terjadi di India. Bagian kelima, menyuguhkan
tentang beberapa karya atau buah-buah tasawuf dalam kehidupan dan
perjalanannya di India. Bagian terakhir, yaitu penutup, yang sekaligus
sedikit mencoba untuk menarik sebuah kesimpulan dari sekilas pembahasan
yang telah disampaikan sebelumnya.
B. LATAR BELAKANG MASUKNYA TASAWUF DI INDIA
☺ Penyerangan oleh Mongol Terhadap Dunia Islam (Persia).
Tahun
907 H/1502 M, naiklah Kerajaan Safawi di Persia. Kerajaan ini telah
berjasa mempersatukan kebangsaan Persia di bawah suatu kerajaan besar
yang berhak memakai gelar “Syahin Syah” (Sri Maharaja di Raja), setelah
sekian lama dalam rebutan Bangsa Mongol Islam, Turki dan Arab. Rajanya
yang cukup memiliki nama, ialah Syah Ismail.
Ia
menyatakan bahwasanya mazhab resmi di Persia adalah Syi’ah, dan ia amat
tidak menyukai bahkan membenci tasawuf. Di kala itu, syair-syair yang
berkenaan dengan tasawu mendapat tantangan yang sangat keras, bahkan
para sufi pun tak jarang mendapatkan perlakuan yang keras dan kasar.
Sehingga, lunturlah keistimewaan tasawuf, yang telah sekian lama tumbuh
subur di persia.
Dengan
adanya desakan terhadap tasawuf di Persia, akhirnya tasawuf (Hafiz
Shirazi) pun bergerak menuju belahan dunia India. Di sanalah, muncul
para ahli tasawuf ternama. Masa-masa pemerintahan Mongol di India,
terutama pada masa Akbar Khan di Agra (Delhi), telah memperkuat akar
tasawuf Islam di India, serta adanya perjuangan kepercayaan dengan para
penganut Hindu, yang juga mendukung bangkitnya tasawuf dan filsafat
Islam di belahan bumi Hindustan tersebut.
Pengaruh
kesusastraan dan tasawuf Persia sangatlah besar terhadap kalangan
muslim Hindustan. Sebelum Akbar Khan, raja Mongol di India menciptakan
Bahasa Urdu, bahasa Persia-lah yang menjadi bahasa resmi istana.
☺ Kearifan Lokal dan Spiritualitas
Tradisi
spiritual Islam di India telah mengembangkan coraknya tersendiri yang
khas. Hal ini tidak terlepas dari keadaan awal Bangsa India yang begitu
memegang kearifan lokal, spiritualitas lama, seperti halnya
spiritualitas dalam Agama Hindu. Meskipun demikian, mereka masih tetap
mengakar terhadap al-Qur’an, hadist serta ajaran-ajaran para khalifah.
Kemudian
dilihat dari bahasa setempat, beberapa mistikus di Bengal, Deccan, dan
India Utara, menyatakan bahwa bahasa-bahasa setempat adalah alat penting
untuk menyampaikan kebenaran. Dari abad 7 H/13 M, kalimat-kalimat dalam
bahasa-bahasa India telah terpelihara dalam boografi-boigrafi para wali
sufi.
☺ Tokoh-Tokoh dari Tanah Persia yang Berpengaruh di India
Al-Hallaj (w. 309 H/922 M)
Nama
pertama yang dikaikan dengan spiritualitas, paling tidak di sebagian
Sind, adalah al-Husain ibn Manshur al-Hallaj, yang telah menjelajah ke
berbagai daerah, untuk menyeru masyarakat kepada Tuhan. Pengalaman
mistik al-Hallaj yang melibatkan hubungan sangat personal dengan Tuhan
dapat dianggap sebagai Klimaks pertama kehidupan mistik Islam awal. Dan,
untuk itu, ia harus membayarnya dengan nyawanya sendiri, terhadap hasil
dari interpretasinya tentang cinta hakiki antar manusia dan Tuhan. Maka
dari itu, tidaklah terlalu berlebihan jika sekiranya dia disebut-sebut
sebagai Syahid-Agung dalam tradisi mistik Islam.
Pada
abad-abad kemudian, nama Manshur al-Hallaj menjelma menjadi simbol
mistik favorit di bagian Barat India dan beberapa wilayah lainnya.
Beberapa orang berpendapat bahwasanya hal tersebut dimungkinkan karena
banyaknya gelombang konstan puisi-puisi mistik Persia yang seringkali
disebut-sebut, yang di dalamnya, al-Hallaj menyebutkan ana al-haqq.
Abu
Yazid al-Bustami, (w. 904 H), mungkin tokoh ini adalah salah satu yang
juga berpengaruh lewat ajaran-ajarannya yang begitu mengena dan
petuah-petuahnya yang banyak dikenal dan berkembang di tanah Persia,
India, dan lain-lainnya.
Namun,
selain dari beberapa tokoh Persia yang telah disebutkan di atas,
tentunya Benua India itu tersendiri, tidaklah berpangku tangan, untuk
tidak menyumbangkan tokoh-tokohnya dalam ranah tasawuf. Diantara mereka
tersebut, adalah Muhammad Iqbal, yang filsafat-tasawufnya adalah
merupakan permulaan perkembangan filsafat-tasawuf Islami. Pusaka
kemegahan kebesaran di India dan Persia telah dijalin kembali dengan
berpedoman kepada al-Qur’an dan berbahan kemajuan pikiran dan
pengetahuan cara Barat oleh Iqbal
Selain
dari pada tokoh tersebut, tentunya masih banyak tokoh-tokoh lain yang
pada dasarnya sangat berpengaruh dan memberikan kontribusi yang cukup
besar dalam perjalanan tasawuf di India, diantaranya adalah, Ahmad
al-Faruqi al-Sahrandi (1624 M), yang telah berhasil menanamkan
nilai-nilai ke-Islaman kepada pemerintah Mongolia yang mengusai wilayah
India, serta telah berjasa dalam proses peleburan nilai-nilai ajaran
Buddha dan penyembahan terhadap berhala. Dan banyak tokoh-tokoh lainnya,
yang belum dapat kami sebutkan pada keempatan ini.
C. TAREKAT-TAREKAT
☺ Tarekat Chistiyyah (Image Orang Suci atau Wali Islam)
Tarekat
Chistiyyah, adalah tarekat yang namanya di ambil dari suatu wilayah di
Afganistan, asal usulnya dapat dilacak hingga abad ke-3 H/9 M. Namun,
meskipun nama tarekat ini diambil dari nama suatu wilayah di Afganistan,
tarekat ini hanya terkenal di India. Chistiyyah memiliki silsilah
spiritual yang jejaknya dapat ditelusuri sampai kepada Hasan al-Bashri
(21-110 H/ 642-728 M). Mereka meyakini bahwasanya hasan al-bashri adalah
merupakan murid dari Ali bin Abi Thalib, sebuah klaim yang validitasnya
mereka temukan secara spiritual.
Pendiri
Tarekat Chistiyyah di India adalah Khawajah Mu’in al-Din Hasan. Selain
itu, Syaikh Nizham al-Din Auliya yang menetap di Delhi,
mengkristalisasikan ajaran Chistiyyah di Utara India, serta di wilayah
Deccan. Murid-muridnya, mendirikan perguruan-perguruan Chistiyyah di
Jawnpur, Malwa, Gujarat, dan Deccan.
Ada
begitu banyak karya Chistiyyah yang tersedia, dan sebagian besar di
tulis dalam Bahasa persia. Para Sufi Chistiyyah pun menulis karya dalam
dialek-dialek lokal, juga dalam Bahasa Arab. Diantara beberapa karya
Chistiyyah adalah, Malfuzhat (karya yang keasliannya diragukan, atau
tidak dapat dilacak autentisitasnya), Literatur biografis dari para
pembimbing spiritual, Maktubat (Surat-Surat), puisi-puisi berbahasa
Hindi, dan lain sebagainya.
Para
anggota tarekat ini, hidup berbaur dengan masyarakat, mereka tidaklah
membangun khaneqah dengan “empat dinding dan pintu gerbangnya”. Tapi,
mereka membangun sebuah jama’at-khanah, dengan dinding lumpur dan atap
jerami. Tempat tersebut, terbuka bagi umum, dan sebagai tempat
berdiskusi dari berbagai macam ide. Para syaikh dan anggota-anggotangya
menjalani hidup dalam konsep futuh, yaitu tidak pernah meminta-minta
pemberian orang.
Tarekat
Chistiyyah berakar pada Sunni. Mereka menganut mazhab fiqh Hanafi.
Namun demikian, pandangan mereka tidaklah terikat pada hukum secara
skriptural, melainkan lebih mementingkan makna terdalamnya. Aspek mereka
yang paling dominan adalah adanya kesetiaan untuk memegang tradisi
hidup berdampingan secara damai.
Kaum
Chistiyyah awal meyakini bahwa kontak dengan orang-orang suci dan para
wali adalah satu satunya sarana yang dapat membuat manusia memeluk
Islam. Mereka percaya bahwasanya hanya kelompok muslim yang saleh
sajalah yang dapat menarik orang lain untuk menerima Islam. Misi utama
mereka adalah berupaya mempersatukan orang-orang Hindu yang memeluk
Islam untuk menjadikan mereka sebagai orang-orang muslim yang
benar-benar saleh.
☺ Kaziruniyah
Sejak
abad ke-4 H/10 M, para sufi telah memulai pembentukan berbagai tarekat
dan kelompok. Salah satu dari tarekat-tarekat tersebut adalah tarekat
Kaziruniyah, yang didirikan oleh Syaikh Abu Ishaq Ibrahim ibn Syahriyar
(w. 426 H/1035 M), ia wafat di Kazirun, antara Syiraz dan Pesisir Teluk
Persia.
☺ Suhrawardiyah.
Syaikh
Syihab al-Din Abu Hafs Umar (539-632 H/1145-1234 M), adalah pendiri
dari tarekat Suhrawardiyyah. Dia menempuh pendidikan di bawah bimbingan
pamannya, Syaikh Dhiya al-Din Abu al-Najib Suhrawardi (490-622
H/1097-1225 M), yang membangun sebuah pondok di Tigris, Baghdad.
Khalifah al-Nashir li-Dinillah (575-622 H/1180-1225 M) mengangkat Syaikh
Syihab al-Din sebagai duta besarnya keberbagai istana para penguasa
penting dan membangun sebuah khaneqah luas untuknya di Baghdad. Kaum
sufi dari berbagai penjuru dunia berkumpul di khaneqahnya untuk
mendapatkn bai’at darinya. Salah satunya adalah Syaikh Baha al-Din
Zakariyya (578 H/1182 M).
Di
Multan, para sufi serta ulama terkemuka, banyak yang menentang Syaikh
Baha al-Din, tetapi, tingkat keilmuan serta posisi istimewanya diantara
murid-murid Syaikh Syihab al-Din Suhrawardi, dapat dengan segera
membuatnya menjadi seorang tokoh terkemuka di Multan. Ia sangat tidak
menganjurkan kaum sufi mencari bimbingan dari sejumlah pir yang berbeda,
melainkan dari satu pir saja. Ia juga sangat menekankan pentingnya
sholat-sholat wajib dan menomor duakan sholat-sholat sunnah dan dzikir.
Syaikh
Baha al-Din meninggal di Multan, 661 H/1262 M. Ia digantikan oleh
anaknya sendiri, yaitu Syaikh Shadr al-Din ‘Arif (w. 684 H/1286 M).
Putra dan penerus Syaikh Shadr al-Din, Syaikh Rukn al-Din Abu al-Fath
(w. 735 H/1334 M), telah berhasil menghidupkan kembali kejayaan politik
dan spiritual kakeknya. Ia sangatlah dihormati oleh raja-raja yang
memerintah di kesultanan Delhi, sejak masa pemerintahan Sultan Ala
al-Din Khalji (695-715 H/1296-1316 M) hingga kematiannya, yaitu pada
masa pemerintahan Sultan Muhammad ibn Tughluq (725 H/1325 M).
Murid
Syaikh Syihab al-Din Suhrawardi yang mempopulerkan Islam di Bengal,
adalah Syaikh Jalal al-Din Tabrizi. Setelah pindah ke Bengal, ia
mendirikan sebuah khaneqah di Deva Mahal, bagian utara Bengal. Ia telah
berhasil mengislamkan banyak orang Hindu dan Buddha. Pada abad ke-8 H/14
M, Kashmir dijadikan sebagai pusat dari para sufi Suhrawardiyyah.
☺ Kubrawiyah
Pendiri
tarekat Kubrawi, yaitu Syaikh Najm al-Din Kubra (540-618 H/1145-1221
M). Sekelompok sufi terkemuka berkumpul di Kubra sebagai murid, dan
beberapa cabang tarekatnya menyebar ke baghdad, Khurasan dan India.
Salah seorang pengikut Kubrawi yang cukup ternama, yaitu Syaikh Saif
al-Din Bakhrazi (w. 658 H/1260 M), memerintahkan muridnya, yaitu
Khawajah Badr al-Din Samarqandi Firdausi, untuk menetap di Delhi.
Meskipun
para Syaikh dari kalangan ini sangatlah menganjurkan kepada para
muridnya untuk selalu berpegang teguh terhadap syari’at, namun, ia
tidaklah mengunggulkan para ulama di atas para sufi. Ia berusaha untuk
tidak mengungkapkan pengalaman spiritualnya, serta menyarankan pada para
murid, untuk tetap menyimpan pengetahuan mereka tentang
pengalaman-pengalaman spiritual mereka.
Di
Kashmir, tarekat Kubrawiyyah diperkenalkan oleh Mir Sayyid Ali Hamadani.
Muhammad Asyraf Jahangir Simnani, yaitu sekalangan dengan Mir Sayyid
Ali Hamadani, adalah sorang Kubrawi yang setelah menetap di kesultanan
Syiraqi, Jaunpur, India, mendirikan cabang dari tarekat Kubrawi, yaitu
Asyrafi.
☺ Syaththariyyah
Di
India, tarekat yang didirikan oleh Syah Abd Allah ini, menyebut dirinya
sbagai Tarekat Syaththariyyah. Namun, pada masa Turki Utsmani, tarekat
ini dikenal dengan sebutan Tarekat Basthamiyyah, dan, di Persia dan
Turki, tarekat ini dikenal dengan sebutan tarekat Isyqiyyah.
Syaththariyyah
mendapatkan ispirasi mereka dari karya-karya tafsir mistis tentang
ke-Tuhan-an, yang dinisbahkan kepada Imam Ja’far al-Shadiq, yaitu Imam
Syi’ah yang keenam. Selain itu, tarekat ini juga banyak terpengaruh oleh
kisah-kisah mistis dari kehidupan Abu Yazid al-Basthami.
Syaikh
Abdullah, sang pendiri tarekat ini, pindah ke India pada awal abad ke-9
H/15 M, setelah menyelesaikan latihan mistisnya. Nama tarekat ini, yang
artinya adalah mereka yang bergerak cepat, diambil karena kecepatan
tarekat ini dalam memecahkan paradoks ke-Esa-an dalam kemajemukan.
Dalam
karyanya, Latha’if-i Ghaibiyyah, ia membagi hamba-hamba spiritual musim
yang tekun ke dalam tiga kategori, yaitu, Akhyar (orang-orang yang
terpilih), abrar (orang-orang yang patuh), dan syaththay (orang-orang
yang bergerak cepat). Dan, dari ketiga kategori tersebut, menurutnya,
syththariyyah-lah yang paling unggul, karena mereka memproleh latihan
langsung dari arwah para wali besar masa lalu, serta mampu menempuh
perjalanan kenaikan sufi dengan cepat.
Selain
dari tareka-tarekat yang telah disebutkan di atas, pada dasarnya, masih
banyak terdapat tarekat-tarekat lainnya, yang juga berkembang dan
berpengaruh di India, salah satunya adalah tarekat yang berkembang pesat
di wilayah india yaitu tarekat Naqsabandiyah, dan dalam revolusi kaum
muslim di Turkistan dan Cina, tarekat ini sangat berperan, sebagaimana
terjadi di wilayah India Timur ketika melawan para penjajah. Selain itu,
juga terdapat Tarekat Qalandariyyah, Tarekat Junaidiyyah, dan lain
sebagainya.
D. KECENDERUNGAN TASAWUF DI INDIA
☺ Kaum Majdzub vs Sufi Palsu (Dukun)
Dalam
lingkungan tasawuf, terdapat suatu kaum yang dikenal dengan sebutan
Kaum Majdzub, atau kaum sufi yang berperilaku aneh. Menurut beberapa
pendapat, kaum Majdzub adalah makhluk-makhluk super yang mampu melakukan
hal-hal luar biasa, dan, baik orang-orang Hindu maupun Muslim, mereka
saling berlumba – lumba dalam menunjukkan ketaatan kepada para kaum ini.
Namun
demikian, sebagaimana sulitnya membedakan antara sufi sejati dan sufi
palsu, demikian jugalah sulitnya, untuk membedakan antara kaum Majdzub
dengan orang yang tidak waras alias gila.
Dalam
setiap waktu, selalu saja terdapat kaum yang disebut dengan kaum
Majdzub ini. Dari sekian banyak individu yang termasuk dari kaum
majdzub, namun, ada satu nama yang dianggap lebih unggul dibandingkan
nama-nama yang lainnya, yaitu Muhammad Sa’id Sarmad dalam sumbangannya
terhadap kehidupan mistis. Ia bekerja sebagai pedagang, dan mengukpulkan
banyak kekayaan dari hasil perdagangannya tersebut.
Ancaman
serius terhadap keberlangsungan hidup tasawuf, bersumber pada
pernyataan-pernyataan sombong para dukun dan sufi palsu. Mereka
memanfaatkan pengaruh para sufi demi kepentingan serta keuntungan
tersendiri. Syair-syair mereka menjadi ancaman besar bagi pandangan
spiritual para sufi sejati. Namun demikian, tasawuf sejati tidak akan
demikian mudah terkalahkan, bahkan masih mampu bertahan hidup hingga
detik ini.
☺ Kaum Malamatiyyah
Kaum
ini, setingkali disebut dengan sebutan Malamatiyyah, Malamiyyah atau
terkadang juga disebut sebagai Ahl al-Malamah, yang pada dasarnya,
memiliki pengaruh yang cukup besar dalam dunia tasawuf.
Nama
kaum ini, diambil dari kata malamah, yang secara bahasa berarti
“celaan”, malamah mengandung arti bahwa mereka tidaklah menganggap
pendapat orang dalam tingkah peribadatan mereka terhadap Tuhan. Kaum
Malamati adalah orang-orang suci yang dengan sengaja menjalani kehidupan
hina, dengan tujuan untuk menyembunyikan hakikat pencapaian spiritual
mereka.
Pendiri
kaum Malamatiyyah ini, adalah Hamdun al-Qashshar, sufi abad ke-3 H/9 M,
yang berasal dari Naisyapur di Khurasan. Kaum Malamatiyyah mengikuti
teladan dirinya, yaitu hidup secara batiniah dalam kebersatuannya dengan
Allah, sementara secara lahiriah, mereka bertindak seolah-olah terpisah
dari Tuhan.
Dalam
tasawuf, sikap pembawaan kaum Malamati ini merupakan sebuah watak
permanen dalam spiritualitas Islam, meskipun, banyak penyalahgunaan yang
dinisbatkan terhadap namanya, misalnya untuk mencampakkan syariat dan
etika atau adab tradisional.
Kaum
Malamatiyyah adalah guru serta pembimbing dan pemimpin manusia di jalan
Tuhan. Meskipun, tidak ada tindakan dari mereka yang tampak berbeda dari
orang-orang awam. Satu di antara mereka, adalah Muhammad, Rasul Allah,
orang bijak yang menempatkan segala sesuatunya di tempat yang
seharusnya.
E. BUAH-BUAH TASAWUF
☺Puisi-Puisi dan Syair-Syair Sufi
Umumnya,
para sufi mengungkapkan gagasan-gagasan mereka dalam syair-syair dan
prosa-prosa yang berbahasa Persia. Namun, syair-syair dalam bahasa
daerahlah, yang membuat tasawuf menjadi sebuah gerakan massal di
kalangan masyarakat India.
Kaum
Chisti, adalah beberapa yang dapat disebut sebagai pelopor dari
gerakan-gerakan tersebut, yang telah banyak menyumbangkan karya-karya
mereka dalam bahasa Hindawi (Hindi). Misalnya ditemukannya, Malfuzhat
(karya yang keasliannya diragukan, atau tidak dapat dilacak
autentisitasnya), kemudian juga adanya Literatur biografis dari para
pembimbing spiritual; seperti; Syiar Auliya’, Fawaid al-Fuad, Manaqib
Fakhriyah, Ma’arij al-Wilayah.dll. , Kemudian juga ditemukan Maktubat
(Surat-Surat), puisi-puisi berbahasa Hindi, dan lain sebagainya.
Sedangkan,
kaum Syaththariyyah, seperti halnya juga kaum Chisti, meminjam
simbol-simbol dan kisah-kisah mitologis dari lingkungan-lingkungan Hindu
lokal, namun, dengan sedikit memberinya tambahan akan nuansa Islami.
Di
Bengal, Sultan Husain Syahi (897-945 H/1494-1538 M) memberikan dorongan
kuat terhadap kesusastraan Bengali. Namun demikian, pertumbuhan nyata
syair sufi terjadi terutama sejak abad ke-10 H/ke-16 M, di wilayah
Cittagong dan istana Arakanese.
Seperti
halnya di wilayah-wilayah India lainnya, majelis-majelis pertemuan
sama’ di Sind juga mengumandangkan musik sufi dalam bahasa Sindhi.
Penyair sufi paling terkemuka dari Sind adalah Syah ‘Abd al-Latif. Karya
puitisnya yang berjudul Risalo (Kitab), yang juga membahas mengenai
balada raktyat Sind, sarat dengan emosi dan penggerak prasaan.
Umumnya,
para penyair sufi mampu mengekspresikan rahasia-rahasia terdalam hati
dengan ungkapan-ungkapan dari kehidupan sehari-hari, yang bahkan,
seorang anak kecil pun, dimungkinkan dapat memahaminya. Selain itu,
sebagai dasar terhadap ajarannya, mereka juga mengadopsi dongeng-dongeng
tradisional setempat. Para pahlawan dalam cerita-cerita Sindh dan
Punjab ditransformasikan sedemikian rupa sebagai simbol-simbol jiwa yang
menempuh banyak cobaan hingga akhirnya mempersatukan dirinya dengan
kekasihnya dalam kematian.
Syair
sufi bukan hanya sekadar ungkapan cinta mistis tentang jiwa kehausan
yang tengah mencari pemahaman intuitif tentang Tuhan, tapi juga sebagai
saluran atau jalan keluar berbagai emosi dan perasaan spiritual. Syair
sufi dalam bahasa Hindi maupun bahasa-bahasa lainnya, telah mampu
membuka cakrawala baru bagi jalan hidup spiritual di benua India.
Baik
para penyair sufi, maupu pelopor gerakan kebaktian Hindu, melakukan
pendobrakan terhadap segala bentuk formalisme keagamaan, kepalsuan,
serta kebodohan, dan berupaya menciptakan sebuah dunia yang semua orang
di dalamnya, mendambakan kebahagiaan spiritual.
E. KESIMPULAN
Dari
sedikit pembahasan yang telah kami sajikan sebelumnya, berkaitan dengan
penyebaran serta perjalanan tasawuf di Benua India tersebut, tidaklah
terlepas dari jasa-jasa para sufi Persia, yang jelas-jelas telah
memberikan kontribusi mereka terhadap tumbuhnya tasawuf di India
tersebut.
Namun,
juga berkenaan dengan perjalanan tasawuf di India tersebut, tidaklah
terlepas dari jasa-jasa para tokoh-tokoh lokal, yang telah berperan
dalam penyebaran tasawuf, serta mendirikan tarekat-tarekat tersendiri,
yang kurang lebihnya, cukup memberikan warna tersendiri bagi Tasawuf dan
kehidupannya.
Bagaimanapun
juga, banyaknya pengaruh sains-sains modern serta pemikiran politik,
tidaklah mampu melenyapkan tasawuf dari Benua India. Kekayaan dan
pengaruh karya-karya sufistik terus hidup menuntun kepribadian hidup
menuju jalan yang lebih menjanjikan.
DAFTAR PUSTAKA
As’ad al-Khatib. Kala Nurani Terusik Tirani (Jejak-Jejak Kearifan dan Kepahlawanan
Kaum Sufi). Jakarta. Serambi. 2005.
Hamka. Tasawuf (Perkembangan dan Pemurniannya). Jakarta: Pustaka Panjimas. 1993.
Hossein Nasr, Seyyed. Ensiklopedi Tematis Spiritualitas Islam (Manifestasi).
Bandung: Mizan Media Utama. 2003.
Trimingham, Spencer. Mazhab Sufi. Penrej: Luqman Hakim. Bandung: Penerbit Pustaka.
1999.
Sumber http://poetraboemi.wordpress.com/2008/05/23/tasawuf-di-india/